Feed on
Tulisan
Komentar

Sudah dengar berita terbaru tentang film ML(Mau Lagi)? Ya, film yang di produseri oleh si Shanker dan disutradarai oleh Thomas Nawilis ini terancam batal tayang di bioskop. Kasian ya? Tau apa yang bikin makin kasian? Film ini terancam batal setelah melalui proses pemangkasan maut oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Lho? udah dipangkas kok masih bisa terancam batal tayang? Selamat datang di Indonesia.

Ok, gua akan mulai dari pihak yang membuat ML ini sendiri. Udah tau ini negara rese banget soal hal-hal yang nyerempet pornografi (apalagi kalo elo ngga menyumbang secara cukup), kok kalian masih nekat-nekatnya bikin yang kayak ginian? Kok ga pernah belajar sih? Film yang judulnya cuma ‘Buruan Cium Gue’ aja diprotes sampe kayak orang tolol, eh elo malah main-main dengan judul yang sensitif. Kenapa sih ga belajar? Kenapa sih instead of terus-terusan bikin film sampah elo ga bikin film yang bermutu aja? Shanker bilang di tv kalo “jangan liat film dari trailernya, tapi lihatlah isinya”, ok, kita akan sampai di poin itu, tapi tetep, sori om shanker, kalo menurut saya sih film ini ga bakal ada isinya juga. Jangan pake dalih itulah…kalo menurut gua sih udah jelas tujuan lo cuma menarik penonton sebanyak-banyaknya aja, makanya elo nekat bikin kontroversi kayak gini (yang sekarang terancam ga tayang juga…). Dan satu lagi, ga salah juga sih kalo elo berusaha cari penonton sebanyak-banyaknya dengan taktik ini, toh orang-orang sini juga masih bisa elo bego-begoin kayak gitu.

Berikutnya, Lembaga Sensor Film. Selama ini udah banyak insan perfilman yang menuntuk untuk dibubarkannya Lembaga Sensor Film. Pertanyaannya, apakah LSF memang pantas dibubarkan? Gua bilang sih iya. Tapi gua punya alasan yang berbeda dari para insan perfilman itu. Buat apa sih kita punya lembaga sensor yang ngga ada tegas-tegasnya sama sekali? Mereka sudah me-review ML, sudah melakukan pemotongan, poster dan promo material ML udah bermunculan, dan datanglah protes dari berbagai pihak dan tiba-tiba LSF berubah pikiran dan melarang film ini untuk keluar. Ok, kalo emang film ini segitu parahnya (misalnya ada frontal nudity gitu, yang gua yakin ngga ada) putuskan dong dari awal. Bilang, “NGGA BOLEH!” gitu. Tapi elo udah motong, terus tiba-tiba jadi ketakutan karena di protes. Blum lagi kata-kata petinggi LSF (lupa siapa namanya) yang bilang kalo dia mau digorok lehernya kalo sampe ML tayang. Halooo?? Bilang dong dari awal ke Shanker. Jangan baru sekarang ngomongnya.

Kayaknya emang udah saatnya LSF itu diganti. Selain cara sensor yang sangat primitif dan cenderung komunis, kita semua tentu tahu bahwa LSF ini sama sekali tidak berbasis film. Sudah saatnya orang-orang ini diganti dengan mereka-mereka yang emang ngerti film, dan cara sensornya diganti dengan sistem klasifikasi. Kenapa Klasifikasi? Apakah ini akan membuat semua lebih baik? Jawabannya adalah ya. Gini, dengan klasifikasi, film seperti ML mungkin bisa dapet rating R (ini standart indo lho…di amrik mah paling itu PG). Nah, dengan rating R, maka anak-anak di bawah umur ga boleh nonton film ini, maka tentu saja target pasarnya akan terbatas. Pasti ada yang mikir, ah di indo mah ngga bakal ngefek kayak gituan…paling banyak yg colongan. Justru itu, ini saatnya memperbaiki sistem. Saatnya disiplin digalakkan di hal-hal sesimpel ini. Justru ini akan membuat kita jadi negara yang lebih bertanggung jawab. Bandingin dengan sensor kita sekarang. Ok, adegan seronoknya dipotong, tapi isi dari film itu sendiri, yg notabene juga pasti menjurus, tetep bisa dinikmati. Hasilnya, orang-orang yang seharusnya blum pantas menonton film seperti ini tetap akan mendapatkan asupan yang seharusnya blum pantas mereka dapat.

Lanjut, Mahasiswa. Ini adalah sesuatu yang bikin gua tersenyum masam saat mendengar beritanya. Kalo yang protes soal film ML ini adalah anak-anak IKJ gua bisa ngerti ya. Ada hubungannya gitu. Tapi siapakah Mahasiswa yang dimaksud?  Anak UI dan ITB bo. HAH? UI dan ITB?? Ok, UI punya jurusan broadcast dan ITB punya (paling ngga pas jamannya Joko Anwar) kineclub. Tapi pertanyaan gua, ngapain sih elo ngurusin hal kayak ginian?? Emang kuliah lo belum cukup susah ya sampe elo punya waktu buat ngurusin kayak gini? Bukannya UI sama ITB itu udah terkenal susah ya? atau justru karena elo semua stress makanya elo melampiaskannya dengan demo kayak gini? Dan yang paling penting, Have u seen the fucking movie?? Gua rasa sih blum, karena filmnya belum keluar bukaannn?? Terus gimana elo bisa bilang kalo ini film seronok dan ngga pantes ditonton? Dan lagi siapa elo sih buat maksa-maksa orang lain supaya jangan nonton film ini? Kalo elo ga mau nonton, ya jangan nonton. ngga ada yang maksa. Tapi kalo orang lain mau nonton, ya biarin lah. Emang kalo elo ga mau nonton trus semua ngga boleh gitu? Woy, demokrasi coy. Kalo elo ribut gini, trus sampe akhirnya ML tetap tayang, bukannya makin banyak orang yg penasaran ya? Kebiasaan orang sini kan gitu, makin kontroversial makin banyak yg pengen liat. Atau jangan-jangan ini strategi dagangnya Shanker? elo semua dibayar buat demo, supaya kontroversi semakin tinggi, dan filmnya makin laku? Apapun itu, mendingan elo semua tetep belajar aja deh di kampus, ga usah ikut-ikut kayak ginian. susah kan masuk sana?

Terakhir, MUI. MUI itu singkatan apa sih? Majelis Ulama Indonesia kan? Ngga ada hubungannya sama film kan? Terus kenapa sih di indo film itu harus selalu dihubung-hubungin sama agama?  Kenapa segala sesuatu harus dihubung-hubungin sama agama? Kenapa sih mau ikut-ikutan aja? Ayolah, bakal separah apa sih film ini? we aint going to see ‘Urine Bukkake on Beautiful Eurasian English Teacher Maria Ozawa Nakadashi Raped for 20 Consecutive Times!’here (google aja kalo mau tau itu apa). Dibanding film panas indo taon 80an aja mungkin masih lebih parah film taon 80an. Kok ribut amat sih? Dengan begini malah akan bikin orang-orang yang nonton (kalo jadi tayang) kecewa lho. Jangan ngasih harapan palsu gitu ah.

Gua tau film ini akan busuk. Biarpun akhirnya tayang di bioskop sekalipun, gua ngga bakal nonton (kecuali dibayarin terus ditraktir makan Tony Roma’s). Tapi ya udahlah. Gua ngga ngajakin temen-temen gua supaya memboikot film ini kok. Biarin aja lah orang usaha. Kok sirik amat sih?  Siapa suruh elo ngga bisa bikin film? Dan siapa sih yang maksa elo nonton? Shanker sama sekali ngga maksa elo nonton kok.  Dan KALO sampe akhirnya elo nonton dan nyesel, kenapa elo mau aja dibegoin?

gita

Ok, mungkin nona yang satu ini udah agak2 basi dan udah sering dibahas dimana-mana. Tapi ada hal yang dari dulu ingin sekali gua ungkapkan dan baru kesampean sekarang, karena gua baru sempet nulis post ini sekarang.

Pertama kali anak Erwin Gutawa ini muncul, gua pikir, “ah, paling cuma mendompleng nama bapaknya aja. bentar lagi juga ilang”. ternyata gua cukup salah, karena bocah ini ternyata eksis sampe sekarang. Awalnya sih gua fine-fine aja…gua pikir dia hanyalah penyanyi pop biasa, sampai gua menyadari sesuatu. Gua menyadari apa yang dia anggap sebagai “kelebihannya” dan dia abuse luar biasa. Ya, gua menyadari suara “seriosa” nya.

Oh Tuhan suaranya itu….ok. Di awal-awal gua mendengar lagu-lagunya dia, gua blum terlalu menyadari ini (dia sudah menggunakan tekniknya, tapi blum se obvious yang terakhir-terakhir ini). gua cuma mikir, “suaranya pas-pasan ah.” Lagu-lagu Gita semacam ‘Tebar Pisang’ (”Tebar pisang buat ku menangis lagiii….”….ok gua tau judulnya bukan itu, dan pastinya liriknya juga bukan itu. tapi gua ga tau man. gua cuma tau lagunya) sebenernya sudah menunjukkan kalo Gita ingin menunjukkan bahwa ia bisa “mencapai nada tinggi”, tapi buat gua waktu itu, suaranya lebih terdengar seperti orang yg baru belajar nyanyi. Tapi ada kalanya dia menyanyi biasa aja, dan menurut gua itu lebih ok didengernya, seperti misalnya lagu doo-bee-doo (oh iya, ini sebenernya lagu siapa sih aslinya?? dia nyanyiin lagu orang ya?).

Namun…belakangan ini akhirnya secara mau tidak mau gua disadarkan dengan kenyataan. Bahwa Gita Gutawa memang ingin suara “seriosa”nya diperhitungkan. Dan gua harus bilang, Sorry darling, suara lo LUAR BIASA ANNOYING. Gua mulai terganggu ketika dia menyanyikan lagunya Andra & the backbone, ‘Sempurna’. Menurut gua ’sempurna’ adalah lagu yang bagus. Ini adalah lagu yang bisa membuat gua bernapas lega di tengah kumpulan lagu kampung di Gen FM yang gua denger pas lagi naek angkot. Tapi coba kasih lagu ini ke Gita Gutawa. Ok, lagu ini berubah jadi audio ultrasonik yang hanya bisa dinikmati oleh kelelawar. Oh Tuhan Gita, dirimu telah menghancurkan lagu ini.

Gua makin terganggu ketika kemudian Gita menyanyikan jingle-nya Indomie. Tolong dicatat bahwa gua adalah PENCINTA INDOMIE SEJATI. Indomie Goreng tepatnya. Gua udah makan Indomie Goreng sejak umur 2 taon (gua 23 sekarang), dan gua masih makan Indomie Goreng tadi pagi. oh, dan gua anti Mie Sedap. Ok, kembali ke topik, ya, gua semakin terganggu ketika dia menyanyikan jingle indomie. Pasti banyak dari kalian yang sadar, bahwa di sinilah dia benar-benar menunjukkan “bakat”nya. Dia kayak….memasukkan suara tinggi dimanapun dia bisa dan dimanapun dia sempat.

kalo bisa gua gambarkan dengan tulisan, mungkin jadinya seperti ini:

LEGENDS:

italic=suara mulai meninggi italic bold=suara tinggi banget Italic Bold Red=suara tinggi keterlaluan Italic Bold Coret = Please GIta, stop…

OK, mari kita coba ke lagu:

dari lagu ‘Sempurna’:

kau adalaaah darahkuuu….kau adalaaah jantungkuuu….Kau adalaaaah hidupku, lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu….sempurnaa…sempurnaaa….SEMPURNAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!

kira2 begitu…dan mari kita coba dari jingle Indomie: (gua akan pura-pura tidak ingat kalo dia memasukkan teriakan ‘AAAAAAA’ di tengah2 lagunya)

Indomieeee,,,,SeleeeraaaaaKUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!

yah begitulah. Jadi, maaf penggemar gita gutawa, atau siapapun yang bilang suaranya ok. Mungkin kalo digunakan dalam dosis tertentu, suaranya bisa jadi bagus. tapi seperti layaknya obat, pakailah sesuai anjuran dokter. kalo dipakai berlebihan, bisa jadi obat itu malah membunuh anda.

Pertama-tama, biar saya pertegas satu hal. Dunia film dan tv indonesia sedang sangat berkembang. Kita bisa liat dari banyaknya tayangan lokal di TV dan film indonesia di bioskop-bioskop 21. Ini jelas membuktikan kalo dunia entertainment kita berkembang. Tapi pertanyaannya, berkembangnya ke arah mana? Segi kualitas atau kuantitas? Sedihnya, dunia film dan tv kita berkembang cuma dari segi kuantitasnya aja. Dari segi kualitas? Sepertinya masih terabaikan. Nah, hal inilah yang akan saya bahas. Kenapa dunia TV dan Film Indonesia masih sulit berkembang dari segi kualitasnya? Apa saja yang menyebabkan hal ini?

Saya sudah memikirkan hal ini cukup lama dan saya menyimpulkan 5 hal utama:

5. Artis Membangun Karir Lewat Seks

Mentor saya pernah bilang, “di Indonesia itu ngga ada yg namanya bintang film. Yang ada itu cuma orang beruntung yang tidur sama produser.” Ya, mungkin dia berlebihan, karena sebenernya ada bintang-bintang film beneran di Indonesia. Sayangnya, bintang-bintang film beneran ini semuanya adalah aktor/aktris senior. Sisa-sisa dari jaman keemasan film Indonesia. Mereka-mereka yang masih bertahan dan setia di dunia film. Trus gimana dengan artis yang baru-baru? Nah, mungkin dalam hal ini mentor saya tidak berlebihan. Mungkin elo pada mikir, “ah sok tau lo jer. ngga gitu juga kaleee…” Yah, pada awalnya saya juga mikir gitu. Dan setelah pada akhirnya saya bener-bener masuk ke dunia tersebut, saya baru tau betapa naifnya saya ketika berpikir seperti itu. Saya magang di sebuah Production House kecil, sangat kecil sampe kalian kemungkinan besar ngga pernah denger, dan hal seperti ini ada di sana. Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Bagaimana orang akan mengorbankan apa pun, sekali lagi, APA PUN, untuk menjadi artis.

Sekarang, gimana kualitas kita mau berkembang jika artisnya dibangun di atas hal-hal semacam ini? Mungkin hal ini terjadi di Hollywood (saya cukup yakin ini juga terjadi di Hollywood), tapi Hollywood sudah merupakan suatu industri yang sangat besar. Dan perlu dicatat bahwa di sana, jika seorang aktor/aktris pengen dikenal karena bisa akting, mereka akan membuktikan kalo mereka bisa akting. Mereka akan buat video casting sendiri dan membuktikan kalo akting mereka layak diperhitungkan. Di sini? wah boro-boro. Para “aktor/aktris” sini dateng bahkan ga baca skrip. Dikasih waktu buat baca skrip, mereka ngerokok. Liat bedanya kan? Di sini aktor/aktris nya sangat merasa artis dan merasa sangat dibutuhkan. Di hollywood? Artis yang butuh maen film. Di sini masih terlalu kuat pandangan bahwa aktor/aktris itu yg penting ganteng dan cantik. Karena itulah cuma ganteng dan cantik yang mereka perjuangkan. Cuma hal ini yang mereka jual ke produser.

Dan yang paling parahnya, banyak juga produser yang memanfaatkan hal ini untuk kepentingan mereka masing-masing.

4. Trend Ikut-Ikutan

Ini adalah suatu fenomena yang bikin kita susah maju juga. Satu bikin horor, semuaaaaaa bikin horor. Satu bikin cinta-cintaan, semuaaaaaaaaa bikin cinta-cintaan. Mungkin dari segi “mendatangkan keuntungan”, ini bukan hal yang salah. Mereka liat Jelangkung laku, kenapa mereka ga bikin horror laen? Mereka liat film seks komedi laku, kenapa mereka ga bikin film seks komedi juga? Tapi justru di sinilah letak kementokan kreativitas kita.

Saya naif kalo saya bilang “berani bikin yang beda dong!!!”. Bikin film butuh duid banyak man. Kalo rugi gimana? Tapi minimal, perhatiin dong kualitasnya! Jangan asal bikin. Jangan jual judul. Judul emang penting, tapi yang membangun sebuah film itu isinya. Kita itu terbiasa ikut-ikutan dari segi tema aja. Pokoknya 1 tema laku, langsung dibikin tema serupa, dengan production value yg jauh lebih rendah. Kalo mau ikut-ikutan, paling ngga bikin bentuk yg lebih sempurna gitu? Kayak misalnya elo liat film horror, busuk, trus mikir kek “gua sih ga bakal bikin kayak gitu. Gua bakal bikin kayak gini ah!” Jangan cuma liat satu horor laku, trus langsung “bikin horor yuuuuuuuuuukkkk!!! Duid maaaaaan!!!”. Someday kita pasti jatoh lagi man kalo pikirannya kayak gini terus.

3. Pre-Production Dianggap Remeh

Mentor saya bilang, “Kita berantem itu pas Pre-Production. Pre-Production is hell on earth. Tapi pas hari shooting, we should be dancing.” Rupa-rupanya, bagi sebagian besar produksi di Indonesia, hal ini masih diabaikan. Saya bilang sebagian besar, karena saya yakin ada produksi-produksi yang pre-pro nya baik. Tapi bagi sebagian besar produksi, pre-production sepertinya bukan merupakan hal yg penting.

Pre-production di sini cuma berkisar dari casting, cari lokasi, dan kemudian reading. Mereka lupa ada satu hal yang memakan waktu paling lama pas shooting, sinematografi. Ya, sebagian besar waktu shooting di sini habis untuk melakukan setting sinematografi. Yang saya maksud di sini adalah setting lampu, setting kamera, ganti lensa, dsb. Ini hal yang keliatannya remeh, tapi sebenernya sangat penting. Di produksi luar, mereka sudah merencanakan semuanya saat pre production. Mereka punya semua catatan shot, dan mereka punya catatan settingannya. Hal ini membuat saat shooting, semuanya sudah terencana dengan sangat baik sehingga proses setting bisa dilakukan dengan sangat cepat.

Di sini, proses itu dilakukan saat shooting. Sehingga waktu yg dibutuhkan  untuk setting bisa mencapai 45 menit. Ini akan membuat mood aktor turun, dan akan berakibat ke kualitas akting yang menurun juga. Kalo udah begini, proses shooting akan menjadi lebih lama, dan overtime menanti. Dan satu hal yang paling jelek kalo udah kayak gini, dilakukan toleransi. Lighting dipukul rata, shot diambil sekali doang, dan hal-hal lain yang membuat kualitas menurun.

2. Kreativitas Ngga Ada Harganya

Ini adalah hal yang membuat orang males untuk mengeluarkan kreativitasnya. Ada salah seorang teman di Production House yang cerita, kalo mereka pernah nge-pitch suatu ide serial tv ke salah satu stasiun tv swasta. Idenya cukup berbeda dan original. Tau apa yg terjadi?  Ide itu ditolak dan stasiun TV itu bikin seri yang serupa, dengan budget yg lebih murah.

Liat ngga anjingnya dunia entertainment kita? Kreativitas sama sekali ngga ada harganya di sini. Ada orang punya ide jenius bikin film/seri tv, yang ada ditolak dan dicuri idenya. Sekarang ngapain mereka susah-susah mikir? Mending mereka bikin ide sampah terus dapet duid, bukan?

Kita ini sudah sampai tahap yang luar biasa parah, terutama di TV. Salah seorang produser TV kondang di Indonesia punya suatu kerjaan yang luar biasa enak buat karyawannya: Pergi ke luar negeri, buat ngerekam acara tv luar negeri dan nantinya disadur, dijadiin acara TV lokal. Dan dengan modal nyuri ini, dia kaya luar biasa.

Kalo udah begini, siapa yang mau bikin ide baru? Siapa yang berani? Yang ada mereka takut idenya dicuri. Jadi mendingan nyuri. Pilih mana, elo bikin ide baru, elo ga dapet duid, trus ngeliat ide lo dicuri dan jadi murahan, atau elo nyuri ide orang, elo dapet duid banyak, trus elo ga peduli juga jadinya kayak apa?

1. Yang Jelek Aja Masih Banyak Yang Nonton

Sebenernya, ini adalah hal yang paling utama, kenapa kita belum bisa maju. Masalahnya, materi-materi yang busuk luar biasa aja masih banyak yang nonton. Kenapa mereka(para produser itu) harus repot-repot mikirin materi yang rumit dan bagus? Ok, mungkin ada yang berargumen, “ya gimana dong…kita ngga diberi materi yang bagus? ngga ada pilihan!” Wets, siapa bilang. Jaman sekarang dvd bajakan murah bgt man. playernya juga murah. tuh pilihan lo. Trus blum lagi acara-acara luar yg ditayangkan di tv lokal. siapa bilang kita ga punya pilihan sama sekali? Kita bisa milih. Kita bisa belajar. Cuma kebanyakan orang ga mau pusing aja. Mereka nonton apapun yg diputer. itu dia masalahnya.

Sekarang kita mau ngomel-ngomel, “ah India-India brengsek! bikin film indo jelek!”, well, mereka menghasilkan duid jauh lebih banyak dari elo. Dan coba deh elo liat ke bioskop, film2 produksi mereka masih selalu laku aja tuh. Siapa yang salah? emang mereka maksa orang-orang itu nonton? ngga juga kan? Orang-orang itu dengan suka rela hati nonton. Dan coba bilang lagi kalo kita ga punya pilihan. Apa namanya kalo elo ga milih untuk bayar Rp. 20000 buat nonton begituan, sementara di sebelahnya ada film hollywood.

Mungkin harusnya kita seneng, film lokal dapet harga yg sama dengan film internasional. Tapi coba dipikir deh, pantes ga sih? Ada yang pantes, bener. Tapi sebagian besar dari apa yang beredar? apa bener pantes elo bayar segitu buat sebuah materi yang sebenernya mengejek intelejensi lo sebagai manusia?

Sebelum kita ngomel-ngomel sendiri soal produser-produser itu, alangkah baiknya kita melihatnya dari sisi lain. Apakah mereka produser yang buruk? dari segi produksi jelas ngga. Mereka menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Goddamn, they’re good. Pertanyaannya adalah, sampe kapan kita mau dibegoin?

Gua ngga mau ngomong banyak-banyak tentang Fitna. Kayaknya udah terlalu banyak kontroversi di luar sana dan sepertinya ngga bijak kalo saya ikut-ikutan (dan udah basi juga sih beritanya…hahaha..). Tapi yang saya mau bilang begini:

Saya bukan muslim dan saya ngga ngerti bahasa arab. Jadi saya sama sekali ngga tau tentang kebenaran dari film itu dan saya sama sekali ngga peduli. Buat saya, itu cuma satu dari sekian banyak film kontroversial. ngga lebih kontroversial dari The Last Temptation of Christ. Ngga lebih kontroversial dari Davinci Code. Ngga lebih kontroversial dari L’Age d’Or. ok? ini cuma sebuah film kontroversial lain. Trus kenapa sih ribut-ribut amat? Kenapa tiba-tiba negara kita jadi barbar, minta Geert Wilder dibunuh blablabla?

Gini, mungkin film ini memang sifatnya sangat provokatif. Tapi apakah seharusnya kita terprovokasi? Kalo dengan hal semacam ini aja kita sudah terprovokasi, berarti negara kita belum maju-maju dong dari jaman penjajahan VOC? Lagian kalo apa yang disampaikan film tersebut ngga bener, kenapa harus marah? Kalo emang ngga bener, buktikan kalo itu ngga bener. Buat sesuatu yang sifatnya menangkis pandangan itu. Jangan cuma marah-marah dan maen bunuh aja. Apa gunanya sih seperti itu? Itu ngga akan memperbaiki pandangan dunia sama sekali. Yang penting sekali untuk dilakukan adalah melakukan tindakan perlawanan yang sifatnya juga intelektual.

Dan akhirnya, efek lanjutan dari film ini adalah di blokirnya Youtube dan Rapidshare. OH C’MON!!!!! sori, gua harus bilang, ini tai bgt. Kenapa sih harus kayak gini? Terakhir kali gua cek, Indonesia paham negaranya adalah Demokrasi Pancasila. Kenapa tiba-tiba kita jadi komunis gini? kenapa tiba-tiba kita kayak RRC, yang suka nge blokin situs-situs yang dianggep bahaya? Kenapa kita ngga pernah berpikir lebih pinter?

Hal semacem ini ga bakal bikin orang indo makin pinter. Kita selalu pake teknik kuno. Teknik jaman dulu. Teknik “POKOKNYA NGGA BOLEH!!! TITIK!!!”. Dan seperti kita tahu, ketika ada orang tua yang mengaplikasikan teknik ini untuk ngasih tau anaknya agar tidak ML sebelum nikah, pada akhirnya anaknya akan end up MBA. Itu adalah sifat dasar manusia untuk jadi penasaran. dan menutup-nutupi suatu hal bukanlah suatu cara yang baik untuk membuat seseorang menjadi lebih pintar.

Jaman dulu, waktu orang amerika ngga suka makan sayur, apa yang mereka buat? apakah mereka membuat kampanye-kampanye sampah? mungkin iya, tapi ada satu hal jenius yang mereka lakukan. Mereka buat Popeye. Mereka membuat target anak-anak. Nah, kayak gitu lah seharusnya kita berpikir. Ketika TV mulai berwarna dan orang-orang mulai stop pergi ke bioskop, apa yg produser-produser amrik lakukan? apakah mereka menyalahkan televisi? ngga. Mereka nyerang balik. mereka melakukan downsizing. sehingga mereka bisa bersaing dengan tv.

Coba bandingin dengan negara kita. Ketika pertama kali 21 muncul dan film2 barat mulai banjir, apa yg dilakukan produser film indonesia pada waktu itu? Marah-marah dan nangis. dan akibatnya? matilah film indonesia. Dan setelah sekian lama, kenapa kita ngga juga belajar? Kenapa setiap kali ada sesuatu hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah demo dan mengancam? Kenapa kita ngga pernah mikirin gimana cara melakukan counter attack secara pinter? Kenapa kita ngga menggunakan dan memanfaatkan semua media yang ada untuk membuktikan kalo kita negara pinter? Kenapa kita masih pake teknik barbar?

Pemblokiran Youtube dan Rapidshare ini sangat merugikan sekali. Banyak orang yang ngga ada hubungannya sama Fitna tapi pengguna setia Youtube dan Rapidshare jadi kena imbasnya juga. Saya salah satunya. Saya bayar internet mahal-mahal supaya bisa nonton di Youtube dan download pake Rapidshare. saya bahkan beli account rapidshare. dan sekarang depkominfo (atau siapapun bajingan itu) nge blok Rapidshare. Trus duid gua ngga diganti gitu? gua bayar anjing. trus mereka ngga mikirin nasib agen rapidshare indonesia? itu kan namanya matiin pengusaha. Ini bener-bener desperate attempt yang sangat bodoh dan tolol. Yah,sebentar lagi para hacker jenius indonesia juga akan menemukan cara untuk ngebobol blokiran ini sih, jadi no problemo. tapi tetep, pemblokiran ini adalah salah satu dari sekian banyak hal yang membuktikan kalo negara kita emang belum pantes jadi negara maju.

Dapet Surprise!

Ketika gua kira ulang taon gua akan berakhir tanpa momen apapun, tanpa disangka-sangka gua mendapat surprise besar!

Bermula dari gua mendengar suara handphone gua berbunyi di kamar. Gua pikir “hah? kok tau2 HP gua di kamar? kayaknya tadi ada di meja komputer deh.” Tapi ya udah, gua tetep buru2 lari ke kamar.

Dan ketika gua buka pintu kamar…tiba-tiba gua melihat sekelompok orang memakai topi ultah dan membawa sebuah kue ultah! Kaget banget man!! Ini pertama kalinya gua dapet surprise dari temen2.

Dan yang bikin makin kaget dan seneng, ternyata nyokap dan adek gua juga ikut serta dalam proses surprise ini. Senang sekali!

Jadi dalam kesempatan kali ini, gua mau berterima kasih pada semua yang sudah susah payah repot-repot ikut serta dalam surprise ini. Thank u bgt buat Dian (pasti kerjaan kamu semua deh!), Davey (sori men jadi kena macet di jalan), Bima (thank u, biarpun elo ga nyetir dan ga cape..hahaha), Nia (thank u juga karena udah berencana nginep di jalan), dan Sandra (thank u karena udah nyetirin Nia dan Bima). Dan tak lupa thank u buat Nyokap dan adek gua Rico, yang sudah mau repot-repot keluar rumah buat beli Izzi Pizza untuk temen-temen.

Thank u semua!!!

…judul-judul filmnya bakal kayak apa ya?? Tapi sebelum kita mulai berkhayal, perlu diingat bahwa ini cuma untuk fun lho. Jangan ada yang menganggap terlalu serius dan meminta saya bertanggung jawab secara ilmiah.

Nah, seperti kita tahu, industri porno adalah salah satu industri paling maju dan paling sukses di dunia. Banyak negara yang industri pornonya legal, tapi hanya beberapa yang bisa sampai go international, seperti Amerika, Jepang, dan beberapa negara Eropa yang tergabung dalam naungan Private.

Dalam mencari ide untuk membuat suatu film, industri porno ini seringkali merujuk pada beberapa hal, antara lain :

  • fantasi yang aneh-aneh dan jarang terjadi
  • parodi dari film yang sedang ngetop
  • suatu fantasi yang melibatkan suatu pekerjaan tertentu (suster, polisi, dll)

Nah sekarang, BAGAIMANA JIKA TIBA-TIBA INDUSTRI PORNO LEGAL DI INDONESIA??? Akan seperti apa judulnya???

Saya mencoba memikirkan beberapa hal yang mungkin akan menjadi pilihan para produser film porno Indonesia (jika suatu saat nanti legal..) :

  1. Inem, Pembantu Nakal
  2. Kost Maksiat
  3. Ada Apa dengan Sintal?
  4. Cewe Rumah Sebelah
  5. Pocong X, Kuntilanak X, Suster Ngesot X (dan film-film horor lainnya yang ditambahin X)
  6. Klimaks Ekspres
  7. Ayam Kampus (seri internet)
  8. Tante-tante seksi (seri internet)
  9. Dijajal Bule (seri wanita lokal dengan cowo bule)
  10. Hantu Gelinjang
  11. Aku Mau Cairan Hangat dari Surga!
  12. Sinta, si Gadis Sintal
  13. Semlohai
  14. Keluar-Masuk-Keluar di Luar
  15. Suster Ngen**t
  16. Sekskul: Sebuah Sekstra Kurikuler
  17. BBB: Bukan Bacol Biasa
  18. Akostot: Anak Kost Tukang Ngen**t
  19. Buruan Col**n Gue!
  20. Night Butterfly (Kupu-Kupu Malam)
  21. Mendadak Ngedut
  22. 40 hari Bangkitnya Otong
  23. Eiffel, I’m in Lust

Nah itu dia. Ada ide-ide lain? silahkan berikan ide anda!

Hari ini saya ulang tahun lho!! Saya genap berusia 23 tahun! 23…mestinya angka sukses nih! Michael Jordan? nomer 23. Beckham? akhirnya nomer 23…Jadi…semoga saya sukses!!! AMIN!

btw sebenernya gua agak2 khawatir, karena di usia segini gua masih belum punya penghasilan yang tetap dan ok. Padahal dulu gua berencana menikah umur 25…itu 2 tahun lagi men. Mungkin ga ya? ya mungkin2 aja sih…ya penting usaha dulu deh.

Yah, segitu saja berita penting dari saya (penting banget kayaknya…). Happy b’day Jerry! Semoga panjang umur dan sukses selalu! Amin!

ps: thank u buat orang-orang yg udah memberi selamat dan memberi kado (sesuai urutan ngasih selamat) :

  1. Dian
  2. Mami
  3. Papi
  4. Rico
  5. Devara
  6. Davey
  7. Winny
  8. Bima
  9. Nike
  10. Ardo
  11. Aileen
  12. Inay
  13. Issa
  14. Rissa
  15. Silvi
  16. Indah
  17. Tania
  18. Winar
  19. Lia
  20. Nia(cowo lu nelpon gua dari Cina dan jam 12 lewat dikid lho…elo udah ngasih selamatnya baru sore, sms lagi…ckckck)
  21. aurel
  22. Jesse
  23. Sandra
  24. Margit
  25. Kadek

bagi yang belum….kadonya harus 2 kali lipat man…hahahah

Dari dulu gua selalu suka ide tentang serangan monster besar. Gua suka aja percaya kalo di dunia ini emang mungkin ada makhluk-makhluk “ajaib” yang tersembunyi dan ga pernah bertemu dengan kita. Dan gua lebih suka lagi dengan ide jika suatu saat makhluk itu keluar dari habitatnya dan menyerang dunia manusia…yang tentu saja disebabkan oleh kelalaian manusia sendiri. Makanya gua suka dengan film-film monster seperti The Host (ga suka endingnya sih…tapi dasar ceritanya suka bgt) dan yang baru-baru ini Cloverfield.

Nah, gua selalu mikir (bahkan pernah sampe mimpi) gimana kalo Jakarta diserang monster?? Bayangin, suatu hari elo lagi pulang kerja. Kantor lo di Sudirman dan, biasa, jam pulang kantor macetnya kayak setan. Elo lagi bermacet-macet ria sambil dengerin Radio….dan tiba-tiba lampu di sekitar Sudirman mati. Dan elo mendengar suara khas monster-monster besar… (taulah…suara2 godzilla gitu…) Dan tiba-tiba ada ledakan besar di sebuah gedung!

Dan saat itulah elo tiba-tiba melihat monster itu sedang berjalan di antara gedung2. Apa yang akan elo lakukan? Kalo gua bakal turun dari mobil untuk liat lebih jelas. Karena ngga mungkin juga sih tetep di mobil. Macet man.

Gimana? Seru ya kayaknya? Kayaknya lebih exciting gitu dibandingkan dengan “monster-monster” yang ada beneran di Indonesia, seperti koruptor, orang-orang yang menyebabkan lumpur lapindo dan ga mau tanggung jawab, atau orang-orang yang menyelewengkan dana bantuan.  Paling ngga monster besar ini….sesuatu yang baru.

Dalam suatu hubungan, entah itu temenan ataupun pacaran, pasti banyak di antara kita semua yang pernah mikir “padahal gua udah ngasih semuanya…kok dia jahat banget sih?”. Lalu one way or another, temen baik lo mengetahui ttg masalah lo dan akan bilang kalo “elo bakal dapet yang terbaik kok ntar. sabar ya…”. Nah, dari sini jalan akan terbagi dua. Ada orang yang kemudian bener-bener mendapatkan yang terbaik, dan ada yang tetep hidup di lembah tai. Kenapa bisa begini? Jawabannya adalah apa yang elo lakukan setelah temenlo bilang “elo bakal dapet yang terbaik kok. sabar ya…”.

Ya, apa yang elo lakukan setelah temen lo ngomong gitu? Orang yang kemudian benar-benar mendapatkan yang terbaik mungkin akan bilang, “thank u banget ya…elo bikin gua ngerasa tenang…” dan biarpun dia masih ngerasa sedih banget, sejak itu dia akan mencoba untuk berpikir positif dan berusaha untuk tidak mengungkit-ungkit masalahnya lagi. Tapi apa yang dilakukan oleh orang yang hidup dalam constant shithole? Mungkin setelah diberi kata-kata penenang oleh temannya, dia akan bilang “Tapi gua udah kasih semuanya!! Kenapa sih dia tega banget?? Elo tau ngga…Dia selingkuh aja gua maafin lho! Dia sampe udah ML segala lho! Gua maafin! Gua kurang baik apa lagi sih???”…Nah, itu dia. Mereka akan semakin membuka aib. Semakin ingin mendapatkan dukungan dari teman-temannya dan secara sadar atau tidak, semakin ingin pacar/temannya itu terlihat buruk di mata orang lain.

Sekarang, kalo kita terus memberikan tai untuk orang lain, apakah kita sendiri pantes dapet roti? If we’re always gives people shit, then we’re nothing but an asshole. We deserve nothing than popping out shit. You are what you gives, people. Kalo kita adalah orang yang selalu memberi sampah untuk orang lain, maka kita menjadi orang yang hanya pantas untuk menerima sampah. Namun apabila kita selalu memberikan bunga untuk orang lain, maka kita menjadi orang yang pantas untuk menerima bunga.

Give them up. Let them go. Forgive them. Bagian yang terakhir inilah yang paling penting dan sekaligus paling susah. Tapi serius, dalam kasus seperti ini, bagaimana kita memaafkan orang menentukan kualitas kita sebagai manusia. Menentukan apakah kita pantas mendapatkan yang terbaik. And in order to prove that we’re worth it, we may have to take a lot of shit for other people, not giving it to them.

Older Posts »